JAKARTA | Garda45.com – Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera Utara dipicu curah hujan ekstrem yang mencapai lebih dari 150 mm per hari. Debit air sungai meluap drastis hingga melebihi kapasitas tampung aliran.
“Perubahan tutupan lahan di kawasan hulu memperparah keadaan. Sedimentasi meningkat, aliran sungai melambat,” ujar Kabiro Humas Kementerian Kehutanan, Krisdianto, Sabtu (29/11/2025).
Di Aceh Utara, banjir memaksa 3.507 warga mengungsi, merendam ratusan hektare sawah dan tambak. Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, di mana banjir merusak permukiman dan infrastruktur Vital. Jembatan Titi Cempedak dilaporkan roboh, memutus akses Jalan Lintas Sumatera Utara – Aceh.
Dampak terburuk tercatat di Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Tapanuli Selatan, dengan korban jiwa mencapai 15 orang.
Kementerian Kehutanan menegaskan, penanganan tidak bisa lagi bersifat parsial. “Kami memperkuat pengelolaan DAS secara menyeluruh, mulai dari identifikasi titik rawan hingga percepatan rehabilitasi kawasan kritis dan revegetasi,” kata Krisdianto.
Pengawasan tata ruang juga akan diperketat agar pemanfaatan lahan tidak bertentangan dengan fungsi ekologis kawasan hutan. Normalisasi aliran sungai bakal dipercepat melalui koordinasi kementerian dan pemerintah daerah.
Di sisi tanggap darurat, Basarnas mengerahkan personel tambahan dari sejumlah kantor SAR di luar daerah, termasuk Bengkulu, Pangkal Pinang, serta Basarnas Special Group (BSG) dari Jakarta. Langkah ini diambil menyusul laporan 13 kabupaten/kota di Sumut terdampak banjir bandang dan longsor.
Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, menyebutkan delapan operasi SAR telah diaktifkan, dengan fokus pada evakuasi warga yang masih terisolasi dan pencarian korban hilang. Distribusi bantuan dilakukan melalui jalur laut, mengingat akses darat banyak yang terputus.
Di Aceh sendiri, 10 daerah sudah menetapkan status darurat. Sebanyak 1.497 warga mengungsi dan dua orang meninggal dunia. Syafii mengajak masyarakat dan media memperkuat penyampaian informasi titik bencana agar penanganan berlangsung lebih cepat dan tepat.











