Daerah

Pedang Pora dan Silat Melayu Warnai Pernikahan Reky–Ceni, Harmoni Cinta Pelaut di Sukajadi

127
×

Pedang Pora dan Silat Melayu Warnai Pernikahan Reky–Ceni, Harmoni Cinta Pelaut di Sukajadi

Sebarkan artikel ini
📸 Nuansa sakral dan penuh kehormatan menyelimuti prosesi pernikahan Reky Dwi Sukma HR dan Ceni Hardani Yanita diapit pasukan pedang pora dalam prosesi pernikahan bernuansa tradisi pelaut dan adat Melayu di Desa Sukajadi, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Sabtu, 9 Mei 2026. (G45/Van).

Sukajadi, Garda45.com Kemilau tradisi dan nuansa adat Melayu menyatu hangat dalam prosesi ngunduh mantu pasangan Reky Dwi Sukma HR, A.Md.Pel., S.Tra ANT II dan Ceni Hardani Yanita, S.Sos., yang digelar Sabtu, 9 Mei 2026, di Desa Sukajadi, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis.

Momen sakral itu tidak hanya menjadi perayaan cinta dua insan, tetapi juga menghadirkan simbol kehormatan, keteguhan, dan doa dalam balutan budaya yang sarat makna.

Putra kedua pasangan Herman dan Rini Suriningsih itu dikenal sebagai alumni pelayaran yang lahir dan besar di Sukajadi. Sementara sang mempelai perempuan, Ceni Hardani Yanita, merupakan putri ketiga dari Yanto Nandra Eny dan Marsita, warga Air Molek, Kabupaten Indragiri Hulu.

Pertemuan dua latar keluarga tersebut dirangkai indah melalui perpaduan tradisi pelaut dan adat Melayu yang memikat perhatian para tamu undangan.

Prosesi pedang pora menjadi bagian paling mencuri perhatian dalam rangkaian acara. Rekan-rekan sesama pelaut membentuk gerbang kehormatan dengan mengangkat pedang tinggi ke udara, lalu kedua mempelai berjalan melewatinya dengan penuh khidmat.

Tradisi ini melambangkan sosok ksatria pelaut yang siap memimpin, menjaga, dan melindungi keluarganya.

Bagi seorang istri pelaut, pedang pora juga menjadi simbol ketegaran hati dalam melepas suami menjalankan tugas di tengah luasnya samudra. “Nuansa romantis berpadu dengan rasa hormat yang mendalam, menciptakan suasana haru di tengah kemeriahan pesta adat tersebut.” ungkap Ceni.

Keindahan budaya Melayu semakin terasa ketika pertunjukan pencak silat turut ditampilkan di sela prosesi ngunduh mantu. Gerakan silat yang diperagakan kerabat dan masyarakat bukan sekadar atraksi seni bela diri, melainkan bentuk doa serta harapan agar rumah tangga kedua mempelai senantiasa mendapat rahmat Allah SWT.

Dalam adat Melayu, setiap langkah dan gerakan silat mengandung makna perlindungan, kehormatan, serta harapan agar pasangan yang menikah dapat membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *