Labuhanbatu | Garda45.com – Sikap diam yang ditunjukkan pihak manajemen Manager PKS Kebun Ajamu I PTPN IV Regional II ( Fahmi Yulizar) menuai sorotan. Hingga beberapa hari setelah pemberitaan dugaan penggunaan air limbah berwarna hitam pekat sebagai campuran pengecoran proyek pagar beton di lingkungan pabrik diterbitkan, pihak manajemen belum juga memberikan klarifikasi maupun penjelasan resmi kepada awak media.
Atas sikap diamnya pihak manajem perusahaan PKS PTPN IV Ajamu, menjadi sebuah tanda tanya di kalangan masyarakat dan publik.
Dugaan tanda tanya tersebut memicu pada dugaan “Kongkalikong” dari pihak pemborong dengan pihak management perusahaan.
Padahal, setelah berita pertama dipublikasikan, awak media telah menyampaikan konfirmasi kepada Manager PKS Ajamu maupun Maskep guna memberikan kesempatan menyampaikan hak jawab dan penjelasan atas temuan di lapangan. Namun hingga berita lanjutan ini ditayangkan, tidak ada satu pun tanggapan yang diberikan. Senin 29/06/2026.
Sikap bungkam tersebut justru memunculkan pertanyaan di tengah publik. Sebab, isu yang dipersoalkan bukan sekadar mengenai teknis pekerjaan, melainkan menyangkut dugaan penggunaan material yang diduga tidak sesuai standar dalam proyek yang berada di lingkungan perusahaan milik negara.
Dalam pemberitaan sebelumnya, awak media menemukan seorang pekerja menggunakan air berwarna hitam pekat yang diambil dari saluran parit di area pabrik untuk mencampur adukan beton. Saat ditanya, pekerja tersebut mengakui air itulah yang digunakan dalam proses pengecoran.
Temuan itu kemudian diperkuat dengan keterangan Tugino selaku pengawas internal CD PKS Ajamu yang menyatakan bahwa air untuk pekerjaan pengecoran seharusnya menggunakan air yang jernih.
“Air sungai bisa, air kolam juga bisa, yang penting airnya jernih,” ujarnya.
Namun ketika ditanya mengenai dugaan penggunaan air limbah berwarna hitam pekat dalam proyek tersebut, Tugino tidak memberikan jawaban tegas dan memilih mengakhiri percakapan.
Selain dugaan penggunaan air limbah, hasil pemantauan di lapangan juga memperlihatkan sejumlah kondisi yang memunculkan tanda tanya, mulai dari penggunaan batu kerikil berukuran besar, posisi angker yang terlihat menempel ke dasar tanah, hingga hasil pengecoran yang dinilai belum tampak padat dan rapi.
Ironisnya, kepala tukang yang mengerjakan proyek tersebut juga mengaku tidak mengetahui mutu beton yang digunakan. Ia hanya menjelaskan komposisi campuran yang diterapkan di lapangan tanpa dapat menyebutkan spesifikasi mutu beton sebagaimana lazimnya sebuah pekerjaan konstruksi.
Kondisi tersebut dinilai semakin memperkuat perlunya evaluasi menyeluruh terhadap proses pelaksanaan proyek, termasuk pengawasan teknis dari pihak perusahaan maupun konsultan pengawas.
Sebagai perusahaan yang mengelola aset negara, PTPN IV Regional II diharapkan menjunjung tinggi prinsip transparansi dan akuntabilitas terhadap setiap penggunaan anggaran maupun pelaksanaan proyek di lingkungan kerjanya. Memberikan penjelasan kepada publik merupakan bagian dari tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, Manager PKS Ajamu dan Maskep yang telah dikonfirmasi sebelumnya belum memberikan tanggapan ataupun hak jawab terkait dugaan penggunaan air limbah dalam campuran pengecoran proyek pagar beton tersebut.











