PEKANBARU, Garda45.com – Suara riuh burung puyuh bersahut-sahutan di tengah gerimis yang mengguyur kawasan Komplek Trans Jasa Industri, Jalan Cipta Karya, Pekanbaru, menjadi saksi semangat belajar 12 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau.
Bukan di ruang kuliah atau laboratorium kampus, mahasiswa semester IV Program Studi Ilmu Komunikasi itu memilih turun langsung ke kandang peternakan DeKings Farm dan Kelompok Ternak Pemuda Trans Bersatu untuk mempelajari praktik ketahanan pangan, ekonomi kerakyatan, hingga pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
Menggenggam tray telur di tangan, para mahasiswa memunguti satu per satu telur puyuh yang baru dipanen. Sensasi memegang telur yang masih hangat dari kandang menjadi pengalaman baru yang tidak mereka temukan di bangku perkuliahan.
“Telurnya masih hangat. Ini pengalaman pertama bagi kami memanen langsung dari kandang. Ternyata banyak hal yang bisa dipelajari dari peternakan rakyat seperti ini,” ujar salah seorang mahasiswi peserta KKN kepada Garda45.com, Selasa (30/6/26).
Namun, kunjungan tersebut bukan sekadar aktivitas memanen telur. Tim KKN yang mengusung tema “FISIP Berdampak Membangun Negeri” itu datang dengan misi melakukan observasi lapangan terhadap sistem ketahanan pangan masyarakat dan peluang pengembangan ekonomi berbasis peternakan.
Diskusi berlangsung hangat bersama Ketua Kelompok Ternak Pemuda Trans Bersatu, Raja Adil Siregar, yang memaparkan berbagai tantangan dan peluang usaha peternakan puyuh.
Mahasiswa menanyakan berbagai persoalan yang dihadapi peternak, mulai dari fluktuasi harga pakan, risiko penurunan harga telur, hingga strategi menjaga keberlanjutan usaha di tengah dinamika pasar.
Ketua Kelompok KKN FISIP Unri, M. Favian Abdullah, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman langsung kepada mahasiswa mengenai kondisi riil masyarakat.
“Kami ingin melihat langsung bagaimana masyarakat membangun ketahanan pangan dari tingkat paling bawah. Dari sini kami belajar bahwa peternakan bukan hanya soal produksi, tetapi juga tentang pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” kata Favian.
Menurutnya, pengalaman lapangan tersebut akan menjadi bahan penting dalam menyusun program kerja KKN yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Raja Adil Siregar menjelaskan bahwa keberhasilan usaha peternakan puyuh tidak hanya bergantung pada jumlah produksi, tetapi juga pada kemampuan membangun jaringan pemasaran yang dekat dengan konsumen.
“Pasar kami langsung ke konsumen dan warung-warung sekitar. Keunggulannya telur yang dijual selalu dalam kondisi segar sehingga harga tetap kompetitif. Kami juga melibatkan UMKM dan warga sekitar dalam proses pemasarannya,” ujar Raja.
Ia menambahkan, peternakan puyuh memiliki nilai ekonomi yang cukup luas karena hampir seluruh hasil usaha dapat dimanfaatkan.
Selain menghasilkan telur untuk konsumsi, burung puyuh yang sudah tidak produktif dijual sebagai bahan pangan. Bahkan limbah ternak berupa kotoran puyuh diolah menjadi pupuk organik yang dimanfaatkan untuk program pertanian rumah tangga.
“Tidak ada yang terbuang. Telurnya dijual, puyuh afkir bisa menjadi produk pedaging, sedangkan kotorannya diolah menjadi pupuk organik untuk tanaman cabai dan sayuran yang dikelola kelompok PKK. Ini bagian dari konsep ekonomi sirkular yang sedang kami kembangkan,” jelasnya.
Menurut Raja, pengembangan sektor peternakan berbasis masyarakat memiliki peluang besar untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka lapangan usaha baru bagi warga.
Ketua RT setempat, Soleman, mengapresiasi kehadiran mahasiswa KKN yang dinilai membawa semangat kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat.
“Kami menyambut baik kehadiran adik-adik mahasiswa. Ini bukan hanya kunjungan biasa, tetapi momentum untuk saling bertukar gagasan dan membangun kerja sama yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Soleman berharap hasil kajian dan observasi mahasiswa dapat melahirkan program pemberdayaan yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.
“Mudah-mudahan apa yang dipelajari di sini bisa menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menghadirkan program yang tepat sasaran dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tambahnya.











