Peristiwa

Api Masih Mengancam, Manggala Agni Bermalam di Dekat Lokasi Karhutla Pematang Pudu

×

Api Masih Mengancam, Manggala Agni Bermalam di Dekat Lokasi Karhutla Pematang Pudu

Sebarkan artikel ini
Petugas gabungan melakukan pemadaman darat di tengah kondisi angin yang menjadi tantangan utama dalam pengendalian karhutla. (G45/Dalkarhut)

PEKANBARU, Garda45.com – Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, memasuki babak baru. Setelah hasil pemetaan udara menggunakan drone menunjukkan luas area yang terbakar mencapai sekitar 80 hektare, tim gabungan memutuskan mengubah strategi operasi guna mempercepat pengendalian api.

Evaluasi hari pertama menunjukkan kendala utama berada pada mobilisasi personel menuju lokasi kebakaran. Waktu tempuh yang cukup lama membuat proses pemadaman baru berjalan maksimal ketika kecepatan angin mulai meningkat, sehingga api lebih mudah menyebar.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan strategi operasi pada Sabtu akan difokuskan pada percepatan pergerakan personel agar pemadaman dapat dimulai sejak pagi hari.

“Besok operasi pemadaman akan kami lanjutkan dengan strategi perbaikan, terutama pada mobilisasi personel. Prinsip kerja kami adalah bergerak sepagi mungkin sehingga kami bisa memanfaatkan kondisi cuaca sebelum angin bertiup lebih kencang,” ujar Ferdian kepada Garda45.com, Jumat (17/7/2026).

Menurutnya, angin yang semakin kencang pada siang hari menjadi tantangan terbesar dalam upaya pemadaman karena dapat mengubah arah rambatan api secara cepat.

“Kendala pagi tadi salah satunya mobilisasi yang memakan waktu cukup lama. Padahal semakin siang angin semakin kencang dan arahnya bisa berubah-ubah. Situasi itu membuat api lebih cepat menyebar sehingga penanganannya menjadi lebih sulit,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, seluruh personel Manggala Agni yang bertugas di Pematang Pudu dipindahkan untuk bermalam di rumah-rumah warga yang berada paling dekat dengan lokasi kebakaran. Langkah ini diharapkan memangkas waktu tempuh menuju titik api sehingga operasi pemadaman dapat dimulai lebih cepat.

“Malam ini posisi menginap kami geser ke rumah-rumah warga yang paling dekat dengan lokasi. Dengan begitu, besok pagi pergerakan personel bisa jauh lebih cepat sehingga penanganan dapat dimulai sejak dini hari setelah persiapan selesai,” katanya.

Berdasarkan hasil pemetaan drone hingga Jumat siang, estimasi luas lahan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 80 hektare. Luasan tersebut diperoleh setelah dilakukan pemetaan menyeluruh dari udara terhadap area yang terbakar.

Dalam operasi ini, Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera mengerahkan tiga regu Manggala Agni yang berasal dari Daops Dumai, Daops Siak, dan Daops Pekanbaru. Mereka bekerja bersama personel BPBD, TNI, Polri, serta masyarakat sekitar untuk mengendalikan kebakaran.

Upaya pemadaman dari udara juga terus dilakukan dengan mengerahkan tiga unit helikopter water bombing yang menyiram titik-titik api di kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Ferdian menegaskan sinergi seluruh unsur menjadi faktor penting dalam mengendalikan kebakaran, terutama di tengah kondisi vegetasi yang kering dan perubahan arah angin yang masih terjadi.

“Kami akan terus melakukan evaluasi setiap hari agar strategi pemadaman semakin efektif. Harapannya, dengan personel sudah berada lebih dekat ke lokasi, besok operasi bisa dimulai lebih cepat sehingga peluang mengendalikan api sebelum angin menguat akan lebih besar,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *