PEKANBARU, Garda45.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sungai Guntung Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, hingga Minggu (9/8/2026) masih belum berhasil dipadamkan. Api bahkan dilaporkan telah merangsek masuk ke kawasan hutan primer, memperparah kondisi di lapangan.
Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 50 hektare. Namun, angka tersebut belum final dan berpotensi terus bertambah seiring proses pemantauan serta pendataan yang masih berlangsung oleh tim di lapangan.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menyebut kondisi di lokasi kebakaran sangat menantang. Bahan bakar yang padat, asap pekat, serta angin kencang membuat api sulit dikendalikan.
“Kondisi di lapangan cukup menantang. Bahan bakarnya padat, asap pekat dan angin bertiup kencang. Kepala api juga sudah merangsek masuk ke arah hutan primer,” kata Ferdian saat dikonfirmasi Garda45.com, Minggu pagi.
Selain faktor cuaca dan material mudah terbakar, kendala utama lainnya adalah akses menuju titik api yang belum sepenuhnya terbuka. Hal ini memaksa tim melakukan penyisiran dari sisi-sisi yang memungkinkan untuk mendekati lokasi kebakaran.
“Akses masuk ke kepala api belum terbuka sepenuhnya, sehingga tim terus berupaya membuka jalur dan menembus ke arah kepala api,” ujarnya.
Upaya pemadaman terus dilakukan secara bertahap. Pada Sabtu (8/8/2026), tim Manggala Agni Daops Rengat melakukan penyisiran dari sisi barat menuju utara guna mencari jalur menuju titik api. Strategi ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi medan serta arah pergerakan api yang dinamis.
Operasi pemadaman juga mendapat dukungan dari udara melalui satu unit helikopter water bombing yang dikerahkan untuk membantu menjinakkan api di area yang sulit dijangkau oleh tim darat.
Untuk mempercepat penanganan, satu unit alat berat tambahan dijadwalkan masuk ke lokasi pada Minggu. Alat tersebut akan difokuskan untuk membuka akses menuju sisi utara kepala api yang hingga kini belum sepenuhnya dapat dijangkau.
“Alat berat tambahan akan digunakan untuk membuka akses ke sisi kepala api bagian utara,” jelas Ferdian.
Selain membuka jalur, alat berat juga akan dimanfaatkan untuk membangun embung sebagai sumber air serta membuat sekat bakar guna mengendalikan laju api. Embung ini diharapkan dapat mempercepat distribusi air ke titik pemadaman, sementara sekat bakar menjadi upaya pencegahan agar api tidak semakin meluas.
“Alat berat juga akan digunakan untuk menyiapkan embung-embung sebagai sumber air serta membuat sekat bakar,” tambahnya.
Hingga kini, proses pemadaman masih terus berlangsung. Tim di lapangan difokuskan untuk membuka akses, memadamkan titik api, serta mencegah kebakaran meluas lebih jauh ke kawasan hutan primer.
“Statusnya masih belum padam dan dilakukan pemadaman lanjutan,” tegas Ferdian.











