DURI | Garda45.com – Suasana di areal kebun PT Sinar Inti Sawit (PT SIS), Desa Pamesi, Kecamatan Bathin Solapan, Bengkalis, kembali memanas. Puluhan orang yang mengatasnamakan Masyarakat Suku Sakai datang dengan keyakinan bahwa sebagian areal perusahaan itu telah disita negara dan menjadi milik mereka.
Sekitar pukul 10.00 WIB, Sabtu (29/11/25), rombongan tersebut mencoba menerobos masuk ke dalam areal perkebunan. Mereka menuntut untuk memanen tandan buah segar di lokasi yang mereka klaim bukan lagi berada dalam kewenangan perusahaan.
“Ini sudah disita negara. Kapasitas ibu menghalangi kami apa!” seru seorang pria dari kelompok itu dengan nada tinggi saat berhadapan dengan petugas keamanan dan karyawan di pintu perkebunan.
Seorang lainnya ikut menyuarakan tuntutan serupa. Menurut dia, hanya sebagian kecil lahan yang masih menjadi hak PT SIS.
“HGU kalian 800 hektare sekian, silakan karyawan bekerja di sana. Tapi 700 hektare lebih ini sudah disita negara,” ujarnya
Namun barisan karyawan PT SIS tak tinggal diam. Mereka berdiri tegap menghadang rombongan yang ngotot untuk masuk.
“Kami di sini mencari makan. Perut kami dan anak-anak kami bergantung pada kebun ini,” tegas seorang karyawan.
Ia mengaku tak mengerti dari mana munculnya kelompok yang mendadak hadir dan mengklaim lahan perusahaan, apalagi disebut bukan berasal dari KSO.
“Ini aneh. Kami bahkan tidak tahu mereka siapa. Kami menduga situasi ini dimanfaatkan oleh pihak tertentu,” ucapnya.
Meski menahan emosi, mereka menegaskan tidak bermaksud melawan pemerintah maupun negara.
“Kami tidak melawan negara. Tapi kalau lahan ini dikuasai begitu saja, kami habis. Matipun kami siap kalau harus bertahan di sini,” tegasnya lagi.
Ketegangan terus meningkat. Dorong-dorongan tak terhindarkan karena kedua pihak sama-sama tidak ingin mundur. Karyawan menjaga portal dan akses masuk kebun, sementara rombongan pengklaim lahan terus mencari celah untuk masuk.
Hingga berita ini diterbitkan, dinamika di lapangan masih berlangsung, dan belum ada pihak pemerintah atau aparat berwenang yang terlihat mengambil alih penanganan situasi panas tersebut.
Penulis : KEND ZAI.











