Pendidikan

Museum Kartini Dianggap Strategis Jadi Pusat Studi, Hidupkan Lagi Warisan Perempuan Jepara

12
×

Museum Kartini Dianggap Strategis Jadi Pusat Studi, Hidupkan Lagi Warisan Perempuan Jepara

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Lestari Moerdijat, (G45/net).

JAKARTA | Garda45.com – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Lestari Moerdijat, kembali menegaskan pentingnya perjuangan memerdekakan pikiran perempuan melalui jalur pendidikan. Pernyataan itu ia sampaikan pada Seminar Kebangsaan bertema “Menggali Kembali Sejarah R.A Roekmini Sang Patriot Pendidikan dari Jepara” yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Jepara, Sabtu (29/11/2025).

Menurut Rerie, kemerdekaan berpikir bagi perempuan bukan cukup dirayakan sebagai simbol keberanian dalam menghadapi norma lama. Sejak masa pra-kemerdekaan lewat karya tiga bersaudara asal Jepara, R.A. Kartini, R.A. Roekmini, dan R.A. Kardinah, perjuangan perempuan telah dimulai lewat pendidikan: Kartini sebagai pionir gagasan, Roekmini sebagai pelaksana dan organisator sekolah perempuan, serta Kardinah dengan semangat perjuangannya. Rerie mengajak masyarakat menggemakan kembali kontribusi mereka.

“Pendidikan bagi perempuan yang digagas mereka membuka cakrawala dan kesempatan seluas-luasnya bagi perempuan Indonesia,” tegas Rerie.

Menurut dia, pendidikan bukan semata soal mengenyam pelajaran, tetapi langkah pembebasan struktural, membuka peluang dan memecah belenggu patriarki di masa lampau.

Seminar ini, lanjut Rerie, menjadi momentum penting untuk mengangkat kembali sejarah perjuangan perempuan Jepara. Ia mendukung langkah Pemerintah Kabupaten Jepara mengalihfungsikan Pendopo Kabupaten menjadi bagian dari Museum Kartini. Ia berharap museum tersebut tidak hanya jadi ruang kenangan, tetapi juga diaktifkan sebagai pusat studi perempuan, sekaligus bahan ajar sejarah dan referensi bagi generasi muda.

Rerie juga menyarankan agar kisah Kartini, Roekmini, dan Kardinah diajarkan secara serius di sekolah, tidak hanya sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai inspirasi perjuangan kontemporer. Ia menyebut bahwa menjaga warisan itu adalah upaya memuliakan kembali martabat perempuan Indonesia.

Seminar dihadiri berbagai tokoh, mulai dari Bupati Jepara, wakil DPRD, guru sejarah, budayawan, hingga akademisi dan masyarakat umum  sebagai bagian dari upaya kolektif menjaga dan meneruskan warisan besar perempuan Jepara.

“Api perjuangan perempuan itu harus terus menyala,” tutup Rerie dengan tegas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *