Ekonomi

Ribuan Balita Alami Stunting, Pemko Pekanbaru Tempuh Skema Donasi

16
×

Ribuan Balita Alami Stunting, Pemko Pekanbaru Tempuh Skema Donasi

Sebarkan artikel ini
Walikota Pekanbaru Agung Nugroho. (G45/Afdl)

PEKANBARU | Garda45.com – APBD Kota Pekanbaru tidak lagi digunakan dalam program penanganan anak stunting pada tahun 2026. Pemerintah Kota Pekanbaru memilih membuka donasi secara terbuka dengan melibatkan masyarakat dan badan usaha sebagai sumber pendanaan alternatif.

Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, mengatakan penanganan stunting tahun ini dilakukan dengan mengajak masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk berpartisipasi membantu pemenuhan gizi anak-anak yang mengalami gangguan pertumbuhan.

“Kami tidak menggunakan APBD. Donasi dibuka secara terbuka untuk masyarakat yang ingin membantu,” kata Agung Nugroho, Jumat (2/1/2026).

Selain masyarakat, Pemko Pekanbaru juga melibatkan badan usaha dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak stunting. Perusahaan dapat menyalurkan dana sosialnya untuk membantu pemulihan kondisi anak hingga dinyatakan bebas dari stunting.

Agung menyebutkan, salah satu perusahaan yang telah menyampaikan kesiapan untuk terlibat adalah PT Angkasa Pura II. Untuk mengelola donasi tersebut, pemerintah kota akan membentuk lembaga khusus.

“Kami akan membentuk Badan Stunting Kota Pekanbaru yang bertugas membuka, mengelola, dan menyalurkan donasi,” ujarnya.

Berdasarkan pendataan yang dilakukan sepanjang 2025 oleh Pemerintah Kota Pekanbaru bersama kader Posyandu, tercatat ribuan balita berada dalam kondisi stunting dan gizi buruk. Data tersebut menjadi dasar penentuan sasaran program penanganan.
Sebagai langkah lanjutan, Pemko Pekanbaru mulai mendistribusikan vitamin serta makanan tambahan bagi anak-anak yang telah teridentifikasi mengalami stunting. Penyaluran dilakukan secara bertahap melalui fasilitas layanan kesehatan dan Posyandu.

Pemerintah kota juga mengajak masyarakat untuk terlibat dalam upaya penanganan stunting melalui berbagai bentuk dukungan, dengan harapan angka stunting di Pekanbaru dapat ditekan dan kualitas kesehatan anak meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *