Pendidikan

Mahasiswa Farmasi UMRI Tanamkan Nilai Toleransi dan Anti Radikalisme di SDN 115 Pekanbaru

19
×

Mahasiswa Farmasi UMRI Tanamkan Nilai Toleransi dan Anti Radikalisme di SDN 115 Pekanbaru

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa dan siswa SDN 115 Pekanbaru foto bersama usai kegiatan sosialisasi. (Foto : G45/Mahasiswa Umri)

PEKANBARU | Garda45.com – Mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) melaksanakan kegiatan sosialisasi pencegahan radikalisme di lingkungan pendidikan dasar, bertempat di SDN 115 Jalan Kaharudin Nasution, Kelurahan Maharatu, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Riau, belum lama ini.

Kegiatan tersebut menyasar siswa sekolah dasar sebagai upaya penanaman nilai toleransi, kebersamaan, dan sikap saling menghormati sejak usia dini. Sosialisasi ini merupakan bagian dari tugas proyek mata kuliah yang diampu oleh dosen UMRI, Ripi Hamdani, S.Pd., M.Pd., dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek atau project-based learning.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya menjaga persatuan, menghargai perbedaan suku, agama, ras, dan budaya, serta menolak segala bentuk kekerasan dan kebencian yang berpotensi mengarah pada paham radikal. Materi disampaikan secara komunikatif dan disesuaikan dengan usia siswa agar mudah dipahami.

Mahasiswa menekankan bahwa lingkungan sekolah memiliki peran strategis sebagai benteng awal pencegahan radikalisme. Siswa didorong untuk membangun budaya dialog, bersikap terbuka terhadap perbedaan, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar, khususnya dari media sosial.

Selain itu, siswa juga diajak untuk bersikap kritis terhadap berbagai informasi yang diterima, terutama yang mengandung unsur provokasi, intoleransi, dan kekerasan. Sikap kritis dinilai penting agar siswa tidak mudah terpengaruh oleh ajakan atau propaganda yang dapat merusak keharmonisan di lingkungan sekolah.

Radikalisme di lingkungan pendidikan dinilai memiliki dampak serius, mulai dari memecah persatuan antar siswa, menumbuhkan sikap intoleran, hingga menciptakan rasa tidak aman di sekolah. Dalam jangka panjang, paham radikal berpotensi menghambat proses belajar dan merusak karakter generasi muda.

Oleh karena itu, siswa diharapkan aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan positif di sekolah, seperti organisasi siswa, diskusi kebangsaan, dan aktivitas sosial yang menumbuhkan rasa kebersamaan. Siswa juga didorong untuk berani menolak serta melaporkan jika menemukan indikasi penyebaran paham radikal di lingkungan pendidikan.

Dosen pengampu mata kuliah, Ripi Hamdani, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasinya terhadap semangat dan kreativitas mahasiswa dalam menjalankan kegiatan tersebut. Menurutnya, pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian penting dari Tridarma Perguruan Tinggi yang harus terus ditanamkan kepada mahasiswa.

“Mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai teori, tetapi juga mampu mengaplikasikannya secara nyata di tengah masyarakat. Kegiatan ini menjadi contoh pembelajaran kontekstual yang memberikan manfaat langsung,” ujar Ripi, Sabtu (3/1/26).

Ia menambahkan, melalui pembelajaran berbasis proyek, mahasiswa diasah tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dari aspek kepemimpinan, empati, tanggung jawab sosial, dan kemampuan komunikasi.

Kegiatan sosialisasi diakhiri dengan sesi tanya jawab bersama siswa, foto bersama, serta pembagian bingkisan kecil sebagai bentuk apresiasi dan motivasi bagi anak-anak. Suasana berlangsung hangat dan penuh antusiasme.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Farmasi UMRI menunjukkan bahwa peran mahasiswa tidak terbatas pada ruang kelas, tetapi juga hadir sebagai agen perubahan sosial. Diharapkan, kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan menginspirasi mahasiswa lain untuk berkontribusi aktif dalam menjaga persatuan, toleransi, dan nilai kebangsaan di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *