Nasional

Museum Sang Nila Utama Berubah Jadi Ruang Kreatif Komunitas Seni Riau

104
×

Museum Sang Nila Utama Berubah Jadi Ruang Kreatif Komunitas Seni Riau

Sebarkan artikel ini
Museum Sang Nila Utama Berubah Jadi Ruang Kreatif Komunitas Seni Riau
Kawasan Museum Sang Nila Utama, Pekanbaru, yang kini berkembang sebagai ruang publik kreatif dan pusat kegiatan budaya masyarakat Riau. (G45/fir) 

RIAU | Garda45.com – Museum Sang Nila Utama, di bawah Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, kian menegaskan perannya sebagai ruang budaya yang hidup. Tak lagi sekadar menyimpan benda bersejarah, museum ini berkembang menjadi pusat aktivitas kreatif yang melibatkan beragam komunitas seni dan pelajar.

Berbagai agenda rutin digelar, mulai dari pameran seni rupa, pertunjukan musik tradisi, workshop kriya, hingga diskusi kebudayaan. Kegiatan tersebut menarik partisipasi luas masyarakat dan menghadirkan suasana museum yang lebih dinamis.

Museum kini menjadi ruang temu pelukis, pemusik, penari, perajin, hingga komunitas teater. Kolaborasi lintas komunitas itu membuat pengunjung tidak hanya menikmati koleksi sejarah, tetapi juga merasakan pengalaman berbudaya secara langsung.

Aktivitas kreatif yang berlangsung dinilai memperkuat fungsi museum sebagai pusat edukasi dan ruang publik. Kehadiran komunitas seni menjadi jembatan efektif untuk mendekatkan museum dengan generasi muda, sekaligus memberi ruang ekspresi bagi seniman lokal.

Dalam setiap agenda, museum mendorong integrasi antara warisan budaya dan kreativitas masa kini. Sejumlah karya yang dipamerkan merupakan interpretasi baru dari koleksi sejarah, sehingga mampu menghubungkan nilai masa lalu dengan perspektif modern.

Museum Sang Nila Utama kini juga menjadi lokasi favorit komunitas tari yang rutin memanfaatkan area dalam dan halaman depan museum sebagai ruang latihan serta produksi konten tari tradisional. Aktivitas ini menambah denyut kehidupan museum yang semakin terbuka.

Sementara itu, komunitas seni rupa memanfaatkan sejumlah sudut museum untuk mural, ilustrasi, dan proses kreatif lainnya. Komunitas sejarah fokus pada riset koleksi, pembuatan dokumenter, hingga pengayaan informasi artefak museum.

Tak hanya komunitas seni, area halaman belakang museum juga dimanfaatkan kelompok Pramuka untuk kegiatan pelatihan, permainan edukatif, dan pembentukan karakter. Kehadiran pelajar menegaskan museum sebagai ruang publik yang inklusif.

Kepala UPT Museum Sang Nila Utama, Tengku Leni, menyambut positif keterlibatan berbagai komunitas tersebut.

“Kami sangat terbuka bagi komunitas yang ingin berkreasi. Museum harus menjadi ruang inspirasi yang hidup dan dekat dengan masyarakat,” ujarnya kepada Garda45.com Minggu (14/12/2025).

Ia menegaskan kolaborasi dengan komunitas seni dan pelajar merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali budaya lokal.

“Semakin banyak kegiatan di museum, semakin besar peluang menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya,” katanya.

Dengan ragam aktivitas tersebut, Museum Sang Nila Utama tak hanya berfungsi sebagai pusat pelestarian, tetapi juga menjadi ruang berkarya, belajar, dan bertukar gagasan bagi masyarakat Riau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *