Nasional

Cuaca Ekstrem Picu Longsor Beruntun di Sumatra, Pemerintah Fokus Pemulihan dan Perlindungan Warga

7
×

Cuaca Ekstrem Picu Longsor Beruntun di Sumatra, Pemerintah Fokus Pemulihan dan Perlindungan Warga

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi tanah longsot. (G45/net).

Jakarta | Garda45.comPemerintah mengutamakan penanganan warga terdampak dan percepatan pemulihan daerah setelah bencana longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatra. Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menyampaikan bahwa pendekatan lapangan kini terfokus pada penyelamatan dan dukungan terhadap masyarakat di kabupaten-kabupaten yang terdampak.

“Prioritas saat ini adalah keselamatan masyarakat serta pemulihan wilayah,” ujar Lana di Jakarta, Minggu (30/11/2025).

Ia menyampaikan duka mendalam atas korban dan kerugian akibat longsor yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari terakhir.

Menurut kajian Badan Geologi, bencana terjadi di lima kabupaten di wilayah Aceh dan Sumatra Utara. Faktor pemicu berkaitan dengan curah hujan ekstrem yang berlangsung terus-menerus, kondisi geomorfologi lereng yang curam, serta struktur tanah yang mudah terurai.

Lana menjelaskan bahwa karakter tanah di kawasan rawan bencana tersebut memperbesar risiko pergerakan tanah ketika jenuh air.

“Setiap penambahan tekanan air di dalam tanah pada lereng curam akan menurunkan kekuatan struktur, sehingga pemicu kecil saja bisa menyebabkan longsor,” jelasnya.

Ia menilai peningkatan kesiapsiagaan masyarakat desa penting untuk meminimalkan dampak. Identifikasi gejala awal seperti retakan tanah, pohon miring, dan aliran air baru harus segera dilaporkan aparatur desa. Jalur penyelamatan juga harus dipastikan tidak terhalang saat kejadian.

Pengaturan pemanfaatan ruang ikut menjadi perhatian. Lana menegaskan larangan eksploitasi kawasan dengan kemiringan ekstrem, terutama pembukaan lahan baru di area berisiko tinggi.

“Penggunaan lahan yang tidak sesuai peruntukan akan memperbesar peluang terjadinya longsor.” sebutnya.

Terkait longsor yang terjadi di Sumatra Utara, Badan Geologi mengingatkan Kota Sibolga dan kawasan sekitarnya berada dalam zona potensi pergerakan tanah menengah hingga tinggi. Kondisi perbukitan pada wilayah pesisir tersebut membutuhkan langkah mitigasi berkelanjutan.

Dari sisi meteorologi, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem dipengaruhi perkembangan Bibit Siklon Tropis 95B di sekitar perairan Aceh dan Selat Malaka sejak 21 November. Sistem ini memperkuat pembentukan awan-awan hujan dengan intensitas besar serta angin kencang.

“Bibit siklon tersebut meningkatkan peluang hujan lebat yang bisa berlangsung dalam durasi panjang,” jelas Faisal.

Masyarakat diminta memperhatikan kondisi lingkungan sekitarnya, terutama bagi yang bermukim di lereng perbukitan.

Selain itu, BMKG juga memantau sistem Meso Siklon Konvektif Kompleks (MCC) di Samudra Hindia yang bergerak mendekati sebagian wilayah barat Sumatra. Sistem badai terorganisasi ini dikenal menghasilkan curah hujan yang sangat tinggi dalam jangka waktu tertentu.

“Fenomena tersebut dapat memicu hujan intens yang berdampak pada banjir dan longsor lanjutan, terutama di Mandailing Natal serta beberapa kabupaten di Sumatra Barat,” ujarnya.

Pemerintah meminta seluruh pihak, termasuk aparat daerah dan relawan kebencanaan, memperkuat pelaksanaan mitigasi. Kesiapan alat evakuasi, komunikasi darurat, dan penataan lokasi penampungan sementara harus dilakukan dengan tepat.

Upaya pendataan kerusakan dan kebutuhan masyarakat terus digerakkan. Bantuan logistik mulai disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga. Koordinasi antarlembaga ditingkatkan agar setiap wilayah mendapat respons sesuai tingkat keparahannya.

Lana menambahkan bahwa bencana hidrometeorologi serupa berpotensi terus terjadi hingga puncak musim hujan. Karena itu, ia menilai penting untuk memastikan edukasi publik berjalan efektif.

“Keselamatan masyarakat adalah tujuan utama dari setiap langkah mitigasi,” kata Lana.

Faisal juga mengingatkan masyarakat untuk terus mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah.

“Kami akan memperbarui peringatan dini secara berkala. Warga diharapkan segera mencari tempat aman apabila terjadi potensi ancaman,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *