Pendidikan

Program Sekolah Rakyat, Senjata Pemerintah Angkat Anak Rentan dari Lingkar Kemiskinan

8
×

Program Sekolah Rakyat, Senjata Pemerintah Angkat Anak Rentan dari Lingkar Kemiskinan

Sebarkan artikel ini
Siswa SR mengikuti kegiatan belajar berbasis karakter di area sekolah terintegrasi. (G45/net) 

JATENG | Garda45.comKementerian Sosial menegaskan bahwa Program Presiden Sekolah Rakyat (SR) menjadi salah satu instrumen penting pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan lewat jalur pendidikan. Program ini menyasar anak-anak rentan yang tidak terjangkau sekolah formal, sekaligus membentuk karakter agar terhindar dari kebiasaan negatif di lingkungan sosialnya.

Sekretaris Jenderal Kemensos, Robben Ricco, menyebut Sekolah Rakyat sebagai bentuk keberpihakan negara kepada masyarakat bawah. Menuju wilayah-wilayah dengan akses pendidikan yang belum merata, SR hadir untuk menjemput mereka yang selama ini tersisih dari sistem pendidikan.

“Program ini untuk memuliakan wong cilik agar bisa setara dengan yang lain. Menjangkau yang belum terjangkau dan memungkinkan yang tidak mungkin,” ujar Robben saat mendampingi visitasi Pemerintah Kabupaten Gresik ke SR Terintegrasi 45 Semarang, Jawa Tengah, Minggu.

Robben menyampaikan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Jawa Tengah dan Jawa Timur tercatat sebagai dua provinsi dengan angka anak usia sekolah yang belum atau tidak lagi bersekolah paling tinggi di Indonesia.

Di Jawa Timur tercatat:

  • 23.041 anak usia SD tidak bersekolah
  • 35.563 anak usia SMP di luar sekolah
  • 400 ribu lebih usia setara SMA belum mendapatkan akses pendidikan

Data tersebut, kata Robben, digunakan pemerintah sebagai dasar untuk mengebut penyelesaian masalah pendidikan secara terukur dan tepat sasaran.

Selain pendidikan formal, pemeriksaan kesehatan juga menjadi bagian penting dalam program SR. Pemeriksaan terhadap 7.409 siswa SR menunjukkan 52 persen membutuhkan penanganan lanjutan dari puskesmas. Kondisi ini dinilai menjadi alarm penting bahwa anak dari keluarga rentan bukan hanya tertinggal dalam pendidikan, tetapi juga rentan secara kesehatan.

Kompleks Sekolah Rakyat didesain dengan prototipe lahan 6 hingga 10 hektare, mampu menampung ribuan anak dalam satu kawasan. Konsep terintegrasi ini memastikan bahwa semua kebutuhan pendidikan, pembentukan karakter, dan pembinaan keterampilan berada dalam satu ekosistem.

“Lulusan SR diharapkan berkarakter, terampil, dan cerdas. Kebiasaan baik selalu ditanamkan. Saya akan mendampingi khusus guru dalam penerapan pendidikan karakter. Pintar itu nomor lima, tapi berperilaku baik itu nomor satu,” tegas Robben.

Ia juga menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan tidak berhenti di bangku sekolah. Hilirisasi lulusan sudah disiapkan, bahkan ratusan alumni Sekolah Rakyat kini telah berhasil masuk perguruan tinggi negeri.

“Saya yakin akan ada lulusan SR yang suatu saat menjadi pemimpin bangsa. Mungkin bupati, mungkin gubernur, bahkan presiden,” tuturnya optimis.

Program Sekolah Rakyat menjadi bukti bahwa negara hadir dan bekerja untuk membuka masa depan bagi anak-anak yang hampir kehilangan harapan. Dengan pendidikan sebagai pintu masuk, anak dari keluarga prasejahtera diharapkan mampu keluar dari lingkaran kemiskinan yang membelenggu selama ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *