TANGERANG SELATAN | Garda45.com – Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie meresmikan Program Sekolah Ibu di Lengkong Gudang Timur, Kecamatan Serpong, Rabu lalu. Ia hadir mengenakan pakaian adat Betawi sebagai bentuk kedekatan dengan para ibu yang mendominasi peserta di wilayah tersebut.
Program ini disiapkan untuk warga yang sebelumnya tidak berkesempatan menyelesaikan pendidikan formal. Di saat daerah berkembang pesat dan mobilitas meningkat, masih ada kelompok masyarakat yang tertinggal dalam akses pendidikan.
“Sekolah Ibu untuk orang yang tidak sempat bersekolah di sekolah formal. Kalau pendidikan isinya ilmu, maka sekolah adalah wadah besar,” ujar Benyamin dalam keterangan tertulis yang diterima media, Minggu (30/11/25).
Benyamin menerangkan ide Sekolah Ibu bermula dari temuan di lapangan yang dihimpun istrinya, Tini Indriyanti. Data menunjukkan masih banyak warga yang putus sekolah, terutama perempuan.
Program ini kemudian diformulasikan lebih luas melalui Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Tangsel menjadi upaya pemberdayaan perempuan dan keluarga berbasis pendidikan.
Benyamin menegaskan seluruh warga yang membutuhkan kesempatan kedua dapat bergabung. Sekolah ini bersifat sosial, tidak berbayar, serta membuka ruang belajar tanpa batas usia.
“Tangsel maju dalam ekonomi dan pendidikan, tetapi masih ada masyarakat yang kurang beruntung. Sekolah Ibu kami harap jadi solusi bagi mereka yang memerlukan,” ungkapnya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas dinas untuk memperluas manfaat program, menyentuh pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, hingga pendampingan usaha.
Menurut Benyamin, kehadiran Sekolah Ibu meneguhkan komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dari keluarga.
“Rintangan pasti ada, tetapi justru membuat kita terus kreatif dan tidak berhenti pada satu titik,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua GOW Tangsel, Tini Indriyanti mengatakan Sekolah Ibu lahir dari keprihatinan terhadap warga yang kehilangan akses pendidikan karena faktor ekonomi hingga kekerasan dalam rumah tangga.
Nama Sekolah Ibu dipilih untuk membawa semangat simbolik seorang ibu sebagai sumber kehidupan dan keteladanan.
“Meskipun namanya Sekolah Ibu, ini bukan sekolah khusus perempuan. Ini sekolah untuk semua yang membutuhkan kesempatan kedua,” tegasnya.
Program ini menyediakan kelas baca–tulis–hitung, keterampilan digital dasar, pendampingan psikososial, pelatihan usaha, hingga kemitraan dengan dunia industri untuk membuka peluang kerja.
Peresmian ini menurut Tini menjadi awal dari upaya besar mewujudkan kota yang inklusif, adil, dan membuka jalan baru bagi warga dalam memperbaiki taraf hidup.
“Semoga Sekolah Ibu menjadi rumah dan harapan. Sebuah ruang pemulihan dan jembatan menuju masa depan yang lebih baik,” ujarnya menutup.











