INHIL | Garda45.com – Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) mengimbau masyarakat, khususnya yang bermukim di wilayah pesisir, agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir rob yang masih dapat terjadi. Ancaman genangan dinilai belum sepenuhnya mereda, terutama apabila pasang laut bersamaan dengan curah hujan di wilayah hulu sungai.
Kepala Pelaksana BPBD Inhil R Arliansyah melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Ari Surya, menyebutkan berdasarkan data pasang surut, ketinggian air laut pada malam hari berada di angka 4,3 meter. Dalam kondisi normal, ketinggian tersebut jarang memicu genangan di permukiman warga. Namun, hujan di daerah hulu menjadi faktor penentu yang dapat memperparah kondisi di wilayah hilir.
“Kalau sesuai tabel pasang surut, sore ini diperkirakan tidak terjadi genangan lagi. Tapi itu belum bisa dipastikan karena adanya curah hujan di hulu sungai,” ujar Ari, Kamis (9/1/2026).
Selama tiga hari terakhir, BPBD Inhil terus menyiagakan personel untuk menangani genangan air di sejumlah titik. Pada dua malam sebelumnya, petugas hingga dini hari melakukan penyedotan air menggunakan mesin di fasilitas pemerintah, fasilitas umum, perbankan, rumah sakit, hingga rumah warga yang membutuhkan bantuan. Kegiatan serupa dilanjutkan pada pagi harinya di beberapa kantor dan kawasan permukiman.
“Bahkan, pada malam sebelumnya, petugas juga membantu penyedotan air di rumah Wakil Ketua DPRD Indragiri Hilir,” ungkapnya.
Ari menjelaskan, wilayah yang paling terdampak banjir rob berada di kecamatan pesisir, di antaranya Guntung, Keritang, Concong, Pulau Burung, Reteh, Tanah Merah, dan Tembilahan. Pada puncak genangan terdalam beberapa hari lalu, ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar 50 sentimeter dari permukaan jalan.
Sejumlah fasilitas vital ikut terdampak, termasuk rumah sakit dan rumah dinas bupati. Meski demikian, banjir rob tersebut dinilai masih bersifat sementara dan belum sampai mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat maupun distribusi bahan pangan secara signifikan.
“Karena dampaknya belum meluas, kondisi ini belum ditetapkan sebagai bencana dengan dampak besar,” jelas Ari.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD mengimbau masyarakat untuk rutin memantau informasi pasang surut dan peringatan cuaca ekstrem melalui aplikasi resmi maupun informasi BMKG. Warga juga diminta mengamankan barang-barang berharga dan peralatan elektronik ke tempat yang lebih tinggi.
“Orang tua juga kami imbau untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak agar tidak bermain di area genangan air, serta bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan guna meminimalkan risiko banjir,” tutupnya.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir telah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi sejak Desember 2025 hingga akhir Januari 2026.











