Nasional

87 RS Terdampak Banjir di Sumatra-Aceh, Sempat 9 Tutup, Kini Aktif Kembali

9
×

87 RS Terdampak Banjir di Sumatra-Aceh, Sempat 9 Tutup, Kini Aktif Kembali

Sebarkan artikel ini
Tenaga kesehatan Emergency Medical Team (EMT) melakukan pelayanan medis di wilayah terdampak banjir di Aceh dan Sumatra. (G45/Yul)

JAKARTA | Garda45.com Kementerian Kesehatan memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan di tengah bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah di Sumatra. Di saat banjir merusak infrastruktur, akses masyarakat ke layanan medis tidak boleh ikut terputus.

Koordinator Krisis Kesehatan Nasional Kementerian Kesehatan, Sumarjaya, menegaskan pemulihan layanan dilakukan cepat dengan prioritas pada fasilitas yang menyangkut keselamatan warga.

“Ketika bencana terjadi, yang paling pertama harus kita pastikan adalah rumah sakit kembali berfungsi, karena itu menyangkut hidup dan mati,” kata Sumarjaya dalam dialog Kemenkes di Jakarta, Senin (26/1/2026).

Kemenkes mencatat 87 rumah sakit terdampak bencana. Dari jumlah itu, sembilan rumah sakit sempat berhenti beroperasi, namun seluruhnya kembali aktif dalam dua pekan pertama masa penanganan.

Pemulihan tidak hanya dilakukan dengan membuka layanan dasar, tetapi juga memastikan layanan krusial berjalan normal. Salah satunya hemodialisis, yang tak bisa ditunda karena pasien bergantung pada terapi rutin.

“Layanan dialisis tidak bisa menunggu. Alhamdulillah, seluruh rumah sakit yang melayani hemodialisis sudah kembali beroperasi,” tegas Sumarjaya.

Perbaikan alat medis, dukungan teknis, kolaborasi lintas rumah sakit, serta bantuan donatur disebut menjadi penopang agar layanan penyelamat nyawa kembali berjalan.

Setelah rumah sakit, pemulihan diarahkan ke layanan kesehatan primer. Kemenkes menyebut 867 puskesmas terdampak, dengan 152 puskesmas sempat lumpuh total.

Per 1 Januari 2026, hampir seluruh puskesmas disebut telah kembali melayani masyarakat. Namun, dua puskesmas di Aceh Timur dan Aceh Tenggara yang rusak berat akan dibangun ulang menggunakan konsep bangunan modular.

Fasilitas modular ini dirancang dapat digunakan hingga lima tahun sambil menunggu pembangunan permanen.

Tahap berikutnya adalah pemulihan sarana pendukung layanan, mulai dari komputer, alat kesehatan, hingga fasilitas penunjang lainnya. Fokusnya mengembalikan fungsi layanan dasar agar masyarakat dapat menerima pelayanan yang aman dan lengkap.

Di lapangan, tim kesehatan bekerja dalam kondisi akses terbatas. Emergency Medical Team (EMT) yang tergabung dalam Tenaga Cadangan Kesehatan diterjunkan sejak hari pertama bencana.

“EMT tipe 1 mobile berjumlah tujuh orang. Mereka dilatih bekerja dalam kondisi ekstrem, mulai dari keterbatasan listrik dan air hingga harus berjalan kaki berjam-jam menuju lokasi terdampak,” jelas Sumarjaya.

Saat ini, Tenaga Cadangan Kesehatan disebut beranggotakan sekitar 27.000 tenaga kesehatan, termasuk ratusan dokter spesialis yang telah dilatih manajemen krisis kesehatan.

Koordinator Lapangan Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Kementerian Kesehatan, Budiman, menyebut akses menuju sejumlah desa menjadi tantangan utama.

“Ada desa yang hanya bisa dijangkau lewat jembatan darurat, sling, atau berjalan kaki empat hingga enam jam. Namun tim kesehatan tetap kami tempatkan agar masyarakat tidak kehilangan akses layanan,” katanya.

Masalah kesehatan pascabencana tidak hanya luka fisik. Kerusakan lingkungan dan sanitasi darurat memicu peningkatan kasus penyakit. Kemenkes mencatat ISPA, diare, dan penyakit kulit menjadi temuan paling banyak di wilayah terdampak.

Karena itu, penanganan diperluas ke langkah pencegahan. Vaksinasi dilakukan di lokasi pengungsian, surveilans penyakit diperkuat, serta penyediaan air bersih dan sanitasi darurat dilakukan melalui pembangunan sumur bor dan fasilitas sementara.

“Tenaga kesehatan tidak hanya mengobati, tetapi juga mencegah munculnya masalah kesehatan baru melalui upaya kesehatan lingkungan, edukasi, dan dukungan psikososial, terutama bagi anak-anak,” ujar Budiman.

Seluruh respons kesehatan dikoordinasikan melalui Health Emergency Operation Center (HEOC) dari pusat hingga daerah. Laporan situasi harian digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan agar pemulihan berjalan merata.

“Kami tidak hanya ingin layanan kembali berjalan, tetapi benar-benar pulih seperti semula agar tenaga kesehatan dan masyarakat bisa kembali beraktivitas dengan aman,” pungkas Sumarjaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *